Kementan Perketat Pengujian Laboratorium, BV Banjarbaru Pastikan Hewan Sehat Sebelum Dilalulintaskan
Banjarbaru — Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Balai Veteriner (BV) Banjarbaru terus memperkuat pengawasan kesehatan hewan melalui pengujian laboratorium terhadap berbagai sampel hewan yang akan dilalulintaskan antarwilayah. Langkah ini menjadi bagian penting dalam mencegah penyebaran penyakit hewan menular sekaligus menjaga keamanan dan keberlanjutan sektor peternakan.
Pengujian dilakukan terhadap hewan ternak maupun jenis hewan lainnya yang akan dikirim ke luar daerah. Sampel yang diperiksa antara lain darah, serum, jaringan, hingga usap (swab) untuk mendeteksi berbagai penyakit hewan menular strategis, termasuk penyakit mulut dan kuku (PMK), brucellosis, avian influenza, serta penyakit lainnya.
Kepala Balai Veteriner Banjarbaru Aris Sutomo menegaskan, pemeriksaan laboratorium menjadi salah satu tahapan penting dalam sistem pengawasan lalu lintas hewan. Terlebih, wilayah Kalimantan memiliki jalur distribusi ternak yang cukup strategis sehingga pengawasan terhadap kesehatan hewan harus dilakukan secara ketat.
“Setiap hewan yang akan dilalulintaskan wajib melalui proses pengujian untuk memastikan bebas dari penyakit menular. Ini demi melindungi kesehatan hewan itu sendiri, sekaligus menjaga kesehatan masyarakat dan keberlangsungan usaha peternakan,” ujarnya, Kamis (10/9/2026).
Menurut Aris, hasil pemeriksaan laboratorium tidak hanya menjadi dasar untuk mengetahui kondisi kesehatan hewan, tetapi juga berperan dalam mencegah penyakit terbawa dan menyebar ke wilayah tujuan. Karena itu, setiap tahapan pemeriksaan dilakukan secara cermat dengan mengacu pada standar operasional prosedur yang berlaku.
Dalam pelaksanaannya, tim medis dan paramedis veteriner BV Banjarbaru melakukan proses pemeriksaan sejak sampel diterima di laboratorium. Tahapan tersebut mencakup pencatatan dan penelusuran data sampel hingga proses analisis menggunakan metode serta peralatan yang memenuhi standar nasional maupun internasional.
Salah satu pemeriksaan yang dilakukan adalah Complement Fixation Test (CFT), yakni metode pengujian laboratorium untuk mendeteksi keberadaan antibodi terhadap penyakit brucellosis pada serum hewan. Pemeriksaan ini menjadi bagian penting untuk memastikan status kesehatan hewan sebelum mendapatkan izin untuk dilalulintaskan.
Medik Veteriner Madya sekaligus Penyelia Laboratorium Serologi BV Banjarbaru, Nur Jannah, menjelaskan bahwa pengujian tersebut diperlukan untuk memberikan kepastian mengenai kondisi kesehatan hewan sekaligus meminimalkan risiko penyebaran penyakit antarwilayah.
“Pengujian CFT merupakan salah satu metode laboratorium untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap penyakit Brucellosis pada serum hewan. Melalui pengujian ini dapat memastikan status kesehatan hewan sebelum dilalulintaskan, sehingga potensi penyebaran penyakit Brucellosis antar daerah dapat dicegah sejak dini,” ujar Nur Jannah.
Ia menambahkan, ketepatan hasil pengujian menjadi hal yang sangat penting karena hasil tersebut akan digunakan sebagai salah satu dasar dalam proses pengawasan lalu lintas hewan. Oleh sebab itu, pemeriksaan dilakukan dengan prosedur yang terukur untuk menghasilkan data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Hasil pengujian laboratorium selanjutnya menjadi salah satu acuan bagi pemerintah daerah dan pihak terkait dalam menentukan langkah pengawasan kesehatan hewan. Pemeriksaan tersebut juga berkaitan dengan penerbitan surat keterangan kesehatan hewan (SKKH) yang menjadi salah satu persyaratan administratif sebelum hewan dikirim ke luar daerah.
Melalui pengawasan yang dilakukan secara konsisten, BV Banjarbaru berupaya memastikan setiap hewan yang dilalulintaskan berada dalam kondisi sehat dan memenuhi persyaratan kesehatan yang ditetapkan. Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari sistem pencegahan penyakit hewan yang dilakukan secara berkelanjutan.
Penguatan pemeriksaan laboratorium juga diharapkan dapat memberikan rasa aman bagi pelaku usaha peternakan maupun masyarakat. Dengan status kesehatan hewan yang terverifikasi sebelum pengiriman, risiko penyebaran penyakit dapat ditekan dan kegiatan perdagangan serta distribusi ternak dapat berlangsung secara lebih aman.
Langkah ini sejalan dengan upaya Kementan dalam memperkuat pengendalian dan pencegahan penyakit hewan menular di berbagai wilayah Indonesia. Pengawasan berbasis laboratorium menjadi salah satu instrumen penting untuk menjaga kesehatan hewan sekaligus melindungi masyarakat dari potensi dampak penyakit zoonosis.
Dengan terus memperketat pengujian dan pengawasan, BV Banjarbaru berkomitmen mendukung terciptanya lalu lintas hewan yang aman, sehat, dan bebas penyakit. Upaya tersebut pada akhirnya diharapkan turut memperkuat produktivitas peternakan serta ketahanan pangan hewani, khususnya di wilayah Kalimantan.