Kementan Pacu Hilirisasi Ayam di Bone, Peternak Disiapkan Jadi Motor Penggerak Ekonomi
Bone — Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) terus memperkuat kesiapan sumber daya manusia untuk mendukung pengembangan Program Hilirisasi Ayam Terintegrasi di Provinsi Sulawesi Selatan. Penguatan kapasitas tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan program hilirisasi tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga mampu menciptakan nilai tambah dan memperkuat daya saing usaha peternakan.
Langkah tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan Bimbingan Teknis (Bimtek) Hilirisasi Ayam Terintegrasi yang digelar di Kabupaten Bone, salah satu wilayah yang menjadi lokasi pengembangan program tersebut di Sulawesi Selatan. Kegiatan ini diikuti 36 peserta yang berasal dari perwakilan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sulawesi Selatan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Bone, serta para peternak mandiri ayam ras petelur dan pedaging.
Pemilihan Bone sebagai salah satu lokasi pengembangan program sekaligus menunjukkan pentingnya kesiapan pelaku usaha di tingkat daerah. Karena itu, Bimtek diarahkan tidak hanya untuk memberikan pemahaman mengenai program, tetapi juga membekali peternak dengan pengetahuan dan keterampilan yang dapat diterapkan secara langsung dalam pengembangan usaha mereka.
Bimtek tersebut dibuka oleh Plt. Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Bone, Andi Herman. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa peningkatan kapasitas peternak merupakan bagian penting dari kesiapan daerah dalam menjalankan program hilirisasi ayam terintegrasi.
“Program Hilirisasi Ayam Terintegrasi menjadi peluang bagi Kabupaten Bone untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah usaha peternakan. Karena itu, peningkatan pengetahuan dan keterampilan peternak menjadi sangat penting agar program ini dapat dilaksanakan secara baik dan memberikan manfaat nyata bagi peternak,” ujarnya Jumat (4/9/2026).
Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Hary Suhada, dalam sambutan tertulisnya menyampaikan bahwa hilirisasi harus dipandang sebagai sebuah proses yang menyeluruh. Upaya tersebut tidak berhenti pada peningkatan produksi di tingkat peternak, tetapi juga mencakup pembangunan sistem usaha peternakan yang efisien, berkualitas, dan berkelanjutan.
“Hilirisasi ayam terintegrasi harus kita dukung mulai dari hulu hingga hilir. Peternak menjadi bagian penting dalam rantai tersebut. Melalui penerapan Good Farming Practices, peningkatan kompetensi, dan pemanfaatan potensi sumber daya genetik lokal, kita berharap produktivitas dan daya saing usaha peternakan dapat terus meningkat,” jelasnya.
Untuk memperkuat pemahaman tersebut, para peserta mendapatkan sejumlah materi yang berkaitan langsung dengan kebutuhan pengembangan usaha peternakan. Materi yang diberikan meliputi Sosialisasi Program Hilirisasi Ayam Terintegrasi, penerapan budidaya ayam sesuai prinsip Good Farming Practices (GFP), hingga pengenalan potensi pengembangan Ayam Lokal Alope sebagai salah satu ayam lokal unggul yang dikembangkan oleh Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin Makassar.
Dalam pelaksanaannya, Ditjen PKH menugaskan Tim Kerja Unggas dan Aneka Ternak, Direktorat Perbibitan dan Produksi Ternak, sebagai narasumber. Penguatan materi juga dilakukan dengan menghadirkan Dekan Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin Makassar, Prof. Syahdar Baba, yang memberikan perspektif akademis sekaligus teknis mengenai pengembangan ayam lokal dan praktik budidaya yang baik.
Prof. Syahdar Baba membawakan materi bertajuk “Potensi Pengembangan Ayam Lokal Alope dan Penerapan Good Farming Practices dalam Budidaya Ayam untuk Mendukung Hilirisasi Ayam Terintegrasi”. Melalui materi tersebut, peserta memperoleh gambaran mengenai peluang pemanfaatan sumber daya genetik ayam lokal sekaligus pentingnya penerapan praktik budidaya yang baik untuk menghasilkan ternak dan produk peternakan yang berkualitas.
Peningkatan kapasitas melalui Bimtek ini diharapkan menjadi bekal bagi para peternak untuk mengembangkan usaha secara lebih profesional. Dengan pengetahuan dan keterampilan yang semakin baik, peternak diharapkan mampu menerapkan prinsip budidaya yang tepat, meningkatkan produktivitas, menjaga kualitas produk, serta merespons peluang pasar yang terus berkembang.
Pada akhirnya, pengembangan Program Hilirisasi Ayam Terintegrasi di Kabupaten Bone diharapkan tidak hanya memperkuat sektor peternakan dari sisi produksi, tetapi juga membangun keterhubungan yang lebih kuat antara sektor hulu dan hilir. Rantai usaha yang semakin terintegrasi akan membuka ruang bagi peningkatan nilai tambah, pengembangan peluang usaha, serta perluasan manfaat ekonomi.
Dengan dukungan peningkatan kompetensi peternak, penerapan Good Farming Practices, dan pemanfaatan potensi sumber daya genetik lokal, hilirisasi ayam terintegrasi di Bone diharapkan mampu menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi peternakan di daerah sekaligus memberikan manfaat yang lebih besar bagi peternak dan masyarakat.