Kementan Perkuat Pemulihan Peternakan Sumatera Pascabencana, Petugas Inseminator Disiapkan
**
Lembang — Upaya mempercepat pemulihan populasi dan produktivitas ternak di wilayah terdampak bencana terus digenjot Kementerian Pertanian (Kementan). Salah satu langkah yang ditempuh adalah memperkuat kapasitas sumber daya manusia di bidang reproduksi ternak melalui Pelatihan Calon Inseminator (petugas inseminasi buatan) yang digelar di Lembang, Rabu (12/8/2026).
Pelaksanaan pelatihan dilakukan dalam dua angkatan. Pada angkatan pertama, sebanyak 50 peserta mengikuti pembekalan dan pelatihan teknis dengan fokus mendukung pemulihan peternakan di tiga provinsi terdampak, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Kementan Hary Suhada menegaskan bahwa percepatan pemulihan populasi dan produktivitas ternak di wilayah terdampak bencana membutuhkan dukungan tenaga teknis yang kompeten.
Menurutnya, inseminator memiliki peran strategis dalam memastikan layanan reproduksi ternak tetap berjalan sehingga peternak dapat kembali meningkatkan produktivitas usahanya.
“Pemulihan populasi ternak di daerah terdampak bencana membutuhkan kerja bersama. Peserta yang terpilih memiliki tanggung jawab untuk mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh dan menerapkan kompetensi yang diperoleh untuk membantu peternak di daerah masing-masing,” ujar Hary.
Ia menambahkan, peningkatan populasi ternak tidak hanya bergantung pada penyediaan ternak, tetapi juga membutuhkan sistem reproduksi yang kuat dan berkelanjutan. Karena itu, penguatan kapasitas inseminator menjadi salah satu langkah penting dalam mendukung pembangunan peternakan nasional.
Kepala Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara Inneke Kusumawaty mengatakan, pelatihan calon inseminator dirancang untuk membekali peserta dengan kemampuan teknis sekaligus membangun kesiapan dalam memberikan pelayanan reproduksi ternak secara profesional.
“Pelatihan ini tidak hanya memberikan pengetahuan dan keterampilan teknis, tetapi juga mempersiapkan peserta agar mampu menjadi bagian dari penguatan layanan reproduksi ternak ketika kembali bertugas di daerah masing-masing,” kata Inneke.
Melalui pelatihan tersebut, peserta mendapatkan pembelajaran terkait berbagai aspek inseminasi buatan, mulai dari pemahaman teknologi reproduksi ternak, manajemen pelayanan inseminasi, hingga penerapan keterampilan teknis di lapangan.
Teknologi inseminasi buatan menjadi salah satu instrumen penting dalam mempercepat peningkatan populasi sekaligus memperbaiki mutu genetik ternak. Dengan dukungan inseminator yang kompeten, layanan reproduksi dapat menjangkau lebih banyak peternak dan membantu mempercepat pemulihan usaha peternakan rakyat.
Sementara itu, Kepala Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang, Gun Gun Gunara, menekankan pentingnya kesiapan peserta untuk mengimplementasikan ilmu dan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan.
“Kami berharap para peserta tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi mampu menerapkan keterampilan inseminasi buatan di lapangan. Kompetensi tersebut sangat dibutuhkan untuk mendukung peningkatan populasi dan produktivitas ternak di daerah,” ungkapnya.
Kolaborasi antara Direktorat Perbibitan dan Produksi Ternak, BIB Lembang, dan BBPKH Cinagara menjadi bagian dari komitmen Kementan dalam membangun sistem peternakan yang lebih tangguh, termasuk di wilayah yang terdampak bencana.
Melalui penguatan sumber daya manusia dan pemanfaatan teknologi reproduksi, Kementan optimistis subsektor peternakan di wilayah Sumatera yang terdampak bencana dapat kembali tumbuh lebih kuat, produktif, dan berkelanjutan. (*)