Kementan Perkuat Seleksi Genetik, Fondasi Pembibitan Sapi Nasional
Jakarta — Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat sistem pembibitan nasional melalui pengembangan Genetic Selection Index atau indeks seleksi genetik untuk sapi pedaging dan sapi perah bersama Pemerintah Selandia Baru.
Kerja sama ini merupakan bagian dari Dairy Cooperation Programme antara Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementan dan Pemerintah Selandia Baru. Fokusnya adalah membangun kapasitas sumber daya manusia sekaligus mendorong sistem seleksi ternak yang lebih terukur dan berbasis data.
Pengembangan Genetic Selection Index dinilai penting karena peningkatan produktivitas ternak harus dimulai dari pemilihan bibit yang tepat. Melalui pendekatan ini, karakteristik dan performa ternak dapat dianalisis untuk menentukan arah perbaikan genetik secara lebih objektif.
Kegiatan Workshop on the Development of a Genetic Selection Index yang berlangsung di Jakarta pada 10–13 Agustus 2026 menjadi bagian dari upaya tersebut. Para peserta mendapatkan pembekalan mengenai pengembangan dan penerapan indeks seleksi genetik, termasuk simulasi penyusunan Genetic Selection Index untuk sapi potong dan sapi perah.
Ketua Kelompok Ruminansia Perah Ditjen PKH, Argi Argiris, mengatakan transfer pengetahuan dari Selandia Baru menjadi modal penting untuk memperkuat kapasitas Indonesia dalam pengembangan pembibitan dan perbaikan mutu genetik ternak.
“Terima kasih kepada para pengajar yang telah berbagi ilmu, pengalaman, dan perspektif selama workshop. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat terus dikembangkan dan diterapkan sesuai dengan kebutuhan pengembangan peternakan di Indonesia,” ujar Argi.
Menurut Argi, kemampuan mengolah data dan menerapkannya dalam proses seleksi akan membantu menghasilkan keputusan pembibitan yang lebih tepat. Dengan demikian, program pembibitan dapat diarahkan untuk menghasilkan ternak dengan karakteristik dan produktivitas yang sesuai dengan kebutuhan nasional.
Ketua Tim Kerja Sama Ditjen PKH, Titik Triary Wijaksani, mengatakan kolaborasi dengan Selandia Baru tidak hanya berorientasi pada transfer pengetahuan, tetapi juga diharapkan menjadi dasar penguatan kerja sama teknis di bidang peternakan.
“Kami berharap kerja sama antara Indonesia dan Selandia Baru dapat terus berlangsung dan semakin berkembang. Tidak hanya melalui kegiatan workshop, tetapi juga melalui berbagai bentuk kolaborasi yang dapat memperkuat kapasitas dan mendukung pengembangan peternakan kedua negara,” imbuh Titik.
Sementara itu, Garry Udy dari Ministry for Primary Industries (MPI) New Zealand menekankan bahwa sistem seleksi genetik membutuhkan dukungan data yang berkualitas dan sumber daya manusia yang mampu menerjemahkan hasil analisis menjadi keputusan pembibitan.
Pengalaman Selandia Baru dalam pemanfaatan data dan pendekatan berbasis sistem diharapkan dapat menjadi referensi bagi Indonesia dalam membangun sistem pembibitan yang semakin kuat dan terukur.
Dari sisi peserta, Putu dari Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU HPT) Denpasar menilai pendekatan tersebut memberikan pemahaman yang lebih aplikatif dalam proses seleksi ternak.
“Workshop ini memberikan tambahan pengetahuan yang sangat bermanfaat, khususnya dalam memahami bagaimana data dan karakteristik ternak dapat digunakan sebagai dasar dalam proses seleksi. Ke depan, pemahaman ini diharapkan dapat kami terapkan untuk mendukung program pembibitan dan peningkatan mutu genetik ternak,” pungkas Putu.
Kementan mendorong agar pengembangan Genetic Selection Index tidak berhenti pada peningkatan kapasitas, tetapi dilanjutkan melalui penguatan pengelolaan data dan penerapannya dalam sistem pembibitan nasional.
Penguatan bibit merupakan fondasi penting untuk meningkatkan produktivitas ternak. Semakin baik kualitas bibit, semakin besar peluang meningkatkan produksi daging dan susu, menekan biaya usaha, dan memperkuat daya saing peternakan nasional.
Melalui penguatan seleksi genetik, pengelolaan data, dan kerja sama teknis internasional, Kementan terus membangun sistem pembibitan yang lebih modern, terukur, dan berkelanjutan untuk mendukung peningkatan produksi daging dan susu nasional. (*)